Tanjung Karang dikaruniai kebaikan oleh Allah Yang Bersemayam Di Atas Arsy. Pasalnya negeri ini mempunyai pantai yang berpasir putih, lautnya tenang dengan air yang bersih dan jernih serta berwarna biru. Tidak jemu-jemu memandangnya. Subhanallah, baru kali ini saya melihat laut yang begitu indah.
Tanjung Karang dapat ditempuh dari Palu menuju utara dengan kendaraan selama sekitar 1 jam. Ya, kecepatannya biasa saja, gak sampai kecepatan balap mobil.
Tidak perlu bayar tiket retribusi buat masuk ke area pantai ini meski untuk duduk-duduk di balai-balai buat berjemur akan ada tarif khusus yang harus dibayar ke penyedianya, yaitu penduduk setempat.
Asli, pantainya berpasir putih, lautnya itu lho bening banget sampai bisa lihat dasarnya. Tidak heran di sini ditawarkan juga snorkeling. Tetapi karena saya tidak bawa alat-alat selam ya jadi saya gak bisa menikmati keindahan karang dan dasar lautnya. Phew, gaya banget alasannya .... :)
Kami serombongan dari Jakarta, menikmati alam indah ini dengan foto-foto, jeprat-jepret sana sini, sambil sesekali narsis. Ya, itung-itung mengabadikan momen.
Tetapi sayang banget, kesini gak sempat berenang, karena waktu yang mepet. Dan sayang juga di pantai yang berpasir putih ini, banyak sampai berserakan. Wah, harusnya dibersihkan nih. Moga Pemda daerah ini bisa mengambil langkah-langkah pasti agar pantainya makin indah.
Walau bagaimana pun hati telah tertambat, pengen juga suatu saat datang lagi melihat biru dan beningnya laut di Tanjung Karan.
---
Teks dan Foto oleh Happy Chandraleka
Semua foto milik Happy Chandraleka
Ditulis di Ruang Kelas
Pelatihan Open Journal System
di Pusbindiklat Peneliti-LIPI
Cibinong-Bogor
10 April 2013
Wednesday, April 10, 2013
Monday, April 8, 2013
Kaledo Stereo Khas Palu, Rempah-Rempahnya Kerasa Banget
Awal April 2013 alhamdulillah Tim Jam Kumpul sempat mengunjungi pulau yang mirip dengan huruf K, yaitu Sulawesi. Kami bertandang ke kota Palu yang berada di ujung Teluk Palu. Udara yang lebih panas dari kota Jakarta bukan halangan, kami tetep maju. :)
Setelah kami kasak-kusuk tanya-tanya dimana warung kaledo, alhamdulillah pada malam hari kami sambangi warung yang menjajakan kuliner kaki lembu donggala alias kaledo. Posisinya ada di Jalan Diponegoro Palu. Tim segera meluncur ke TKP dengan diantar oleh seorang sopir yang baik hati. Ciieh.
Sang sopir menawarkan kaledo sumsum yang merupakan kaledo yang paling layak dicoba. Okeh, saya setuju.
Warungnya termasuk bersih dan nyaman. Banyak foto-foto artis yang mampir ke warung tersebut. Ya, wajarlah sekalian jadi bukti buat menaikkan rating warungnya ... hehe. Ada juga orang bule yang sempat tandang ke warung ini. Hmmm, berarti memang ini warung recomended banget, ya lihat aja tanda-tanda jaman. :)
Kaledo sumsum pun datang. Wah, ada sedotannya.... ! Saya langsung ngeh, ini buat nyedot sumsum yang ada di dalam tulang. Wah, mantap nih. Icip-icip kuahnya dulu. Kaledo memang mirip dengan sop iga kalau di Jakarta. Kuahnya bening. Tetapi rempah-rempahnya itu lho, kerasa banget. Selain itu agak sedikit pedas. Hmmm, top markotop nih kuliner. Dagingnya juga empuk. Te oo pe dah.
Yap ini memang kuliner yang patut kita coba kalau main-main ke Palu. Catat yah, kaledo sumsum di Jl. Diponegoro. Otree...
---
Teks dan foto oleh Happy Chandraleka
8 April 2013 Jam 13.30 WIB
di Pusbindiklat Peneliti-LIPI
Cibinong
Saat Pelatihan Open Journal System
Setelah kami kasak-kusuk tanya-tanya dimana warung kaledo, alhamdulillah pada malam hari kami sambangi warung yang menjajakan kuliner kaki lembu donggala alias kaledo. Posisinya ada di Jalan Diponegoro Palu. Tim segera meluncur ke TKP dengan diantar oleh seorang sopir yang baik hati. Ciieh.
Sang sopir menawarkan kaledo sumsum yang merupakan kaledo yang paling layak dicoba. Okeh, saya setuju.
Warungnya termasuk bersih dan nyaman. Banyak foto-foto artis yang mampir ke warung tersebut. Ya, wajarlah sekalian jadi bukti buat menaikkan rating warungnya ... hehe. Ada juga orang bule yang sempat tandang ke warung ini. Hmmm, berarti memang ini warung recomended banget, ya lihat aja tanda-tanda jaman. :)
Kaledo sumsum pun datang. Wah, ada sedotannya.... ! Saya langsung ngeh, ini buat nyedot sumsum yang ada di dalam tulang. Wah, mantap nih. Icip-icip kuahnya dulu. Kaledo memang mirip dengan sop iga kalau di Jakarta. Kuahnya bening. Tetapi rempah-rempahnya itu lho, kerasa banget. Selain itu agak sedikit pedas. Hmmm, top markotop nih kuliner. Dagingnya juga empuk. Te oo pe dah.
Yap ini memang kuliner yang patut kita coba kalau main-main ke Palu. Catat yah, kaledo sumsum di Jl. Diponegoro. Otree...
| Kaledo Sumsum ada sedotannya buat nyedot sumsum. Mantap. Foto milik Happy Chandraleka |
---
Teks dan foto oleh Happy Chandraleka
8 April 2013 Jam 13.30 WIB
di Pusbindiklat Peneliti-LIPI
Cibinong
Saat Pelatihan Open Journal System
Sunday, April 7, 2013
Catatan Perjalanan ke Donggala Sulawesi Tengah
Donggala. Dimana ya? Kalau dilihat di peta, daerah ini terletak di Sulawesi Tengah di sekitar Teluk Palu. Dapat ditempuh dengan kendaraan mobil selama sekitar 50 menit ke arah utara dari kota Palu. Donggala ini sebenarnya ada dua daerah yang dipisahkan oleh Teluk Palu. Sebut saja Donggala bagian Timur dan Barat. Pusat pemerintahan Kabupaten Donggala ada di bagian Barat, sedangkan kantor kami ada di Donggala bagian Timur di Labuan Panimba.
Untuk sampai ke Donggala, kami menunggangi maskapai Garuda Indonesia yang berangkat sekitar jam 09.00 WIB dari Jakarta. Kemudian transit di Makassar sekitar 30 menit. Setelah itu baru berpacu menuju Bandara Mutiara Palu. Bandara Mutiara Palu termasuk sederhana, tetapi masih lebih maju daripada Bandara Tambolaka di Pulau Sumba yang pernah saya datangi sewaktu perjalanan menuju kota Waikabubak di Nusa Tenggara Timur.
Dari Bandara Mutiara, kami langsung meluncur ke Jl. Monginsidi tempat kami menginap, yaitu di Hotel Sentral. Tarif taksi dari bandara ke hotel adalah Rp. 52.000. Pesan saja taksinya di counter di luar bandara.
Apa saja ya yang bisa dinikmati di Palu-Donggala ini? Banyak. Berikut ini kegiatan kami di daerah ini yang akan kami tumpahkan dalam bentuk tulisan di blog ini:
- Makan sea food 88 di tepi Jl. Monginsidi Palu
- Makan pempek di Kedai 10 di Palu
- Beli bawang goreng Mbok Sri di Palu
- Cari-cari kaos Palu
- Makan sea food di Mogold Sea Food di Palu
- Menikmati keindahan Masjid Argam yang merupakan masjid apung di atas laut
- Menikmati biru dan beningnya laut di Pantai Tanjung Karang
- Makan Kaledo khas Palu di Kaledo Stereo
- Beli sarung donggala di Palu
- dll
Yup, itu kegiatan di Palu-Donggala. Silahkan baca saja ya...
---
Teks dan foto oleh Chandra
7 April 2013/26 Jumadal Ula 1434 H
Pagi hari di Ruang 7 Depok
Untuk sampai ke Donggala, kami menunggangi maskapai Garuda Indonesia yang berangkat sekitar jam 09.00 WIB dari Jakarta. Kemudian transit di Makassar sekitar 30 menit. Setelah itu baru berpacu menuju Bandara Mutiara Palu. Bandara Mutiara Palu termasuk sederhana, tetapi masih lebih maju daripada Bandara Tambolaka di Pulau Sumba yang pernah saya datangi sewaktu perjalanan menuju kota Waikabubak di Nusa Tenggara Timur.
Dari Bandara Mutiara, kami langsung meluncur ke Jl. Monginsidi tempat kami menginap, yaitu di Hotel Sentral. Tarif taksi dari bandara ke hotel adalah Rp. 52.000. Pesan saja taksinya di counter di luar bandara.
Apa saja ya yang bisa dinikmati di Palu-Donggala ini? Banyak. Berikut ini kegiatan kami di daerah ini yang akan kami tumpahkan dalam bentuk tulisan di blog ini:
- Makan sea food 88 di tepi Jl. Monginsidi Palu
- Makan pempek di Kedai 10 di Palu
- Beli bawang goreng Mbok Sri di Palu
- Cari-cari kaos Palu
- Makan sea food di Mogold Sea Food di Palu
- Menikmati keindahan Masjid Argam yang merupakan masjid apung di atas laut
- Menikmati biru dan beningnya laut di Pantai Tanjung Karang
- Makan Kaledo khas Palu di Kaledo Stereo
- Beli sarung donggala di Palu
- dll
Yup, itu kegiatan di Palu-Donggala. Silahkan baca saja ya...
| Suasana kota Palu |
| Seorang teman sedang menikmati suasana kota Palu |
| Hotel Sentral di Jl. Monginsidi Palu |
| Hotel Sentral berada di tepi jalan besar |
| Ruang tunggu di Bandara Mutiara Palu |
| Di Cafe ini ada musholla tempat sholat, daripada harus ke luar bandara |
| Perahu Phinisi di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar |
| Bandara Mutiara Palu |
| Informasi Hotel Sentral Palu |
---
Teks dan foto oleh Chandra
7 April 2013/26 Jumadal Ula 1434 H
Pagi hari di Ruang 7 Depok
Monday, March 4, 2013
Gurame Bakar Babe Naseri
Urusan kuliner memang tidak ada habisnya. Ya namanya saja masalah makan, siapa saja mesti suka. Yang asyik lagi, selalu ada hal-hal baru yang perlu kita coba. Termasuk warung makan yang satu ini.
Warung yang berada di Jl. Raya Sawangan Pancoran Mas Depok ini memang spesialisnya ikan bakar, baik ikan laut ataupun ikan tawar. Nah, sore itu sekitar menjelang jam tiga, Tim Jam Kumpul sempet-sempetnya bersusah payah ke sana walau cuaca sedikit hujan. Setelah membeli perlengkapan yang ada di toserba sebelahnya, kami mampirlah ke Warung Babe Naseri.
Suasananya tidak serame waktu makan siang, maklum sudah hampir sore. Tim Jam Kumpul mengambil tempat duduk hampir pojok, yang lesehan aja, biar lebih enak. Pelayannya pun dateng dengan membawa dua buku menu bersampul merah. Ketimbang bingung baca menu yang banyak saya tanya langsung aja ke mbak-mbak pelayannya,
'mbak, yang favorit di sini apa?'
Dia bilang gurame bakar.
Okelah, saya pesen gurame bakar dengan bumbu kecap. Kelihatannya memang sip nih.
Termasuk terjangkau juga, gurame bakar ukuran sedang dibandrol harga Rp. 65.000. Plus nasi putih Rp. 10.000 dan lalapan Rp. 6000.
Warung makan yang dekat dengan RSU Bhakti Yudha ini mempunyai tempat parkir yang lumayan luas. Jadi kalau bawa mobil insya Allah gak repot parkirnya, kalau bawa tank atau panser baru masalah... :)
Akhirnya dateng juga gurame bakar yang ditunggu-tunggu. Diicip-icip ternyata enak juga, gak ada rasa ikan lelenya! Ya jelas, ini khan ikan gurame... hehe. Apalagi ditambah lalapannya, yang saya suka daun kemanginya. Wah, bisa kebayang khan lezatnya...
View Larger Map
---
Teks dan foto oleh Happy Chandraleka
di Ruang 7
3 Maret 2013/20 Rabi'ul Akhir 1434 H
Malam hari jam 21.52
Sambil ditemani istri...
Warung yang berada di Jl. Raya Sawangan Pancoran Mas Depok ini memang spesialisnya ikan bakar, baik ikan laut ataupun ikan tawar. Nah, sore itu sekitar menjelang jam tiga, Tim Jam Kumpul sempet-sempetnya bersusah payah ke sana walau cuaca sedikit hujan. Setelah membeli perlengkapan yang ada di toserba sebelahnya, kami mampirlah ke Warung Babe Naseri.
Suasananya tidak serame waktu makan siang, maklum sudah hampir sore. Tim Jam Kumpul mengambil tempat duduk hampir pojok, yang lesehan aja, biar lebih enak. Pelayannya pun dateng dengan membawa dua buku menu bersampul merah. Ketimbang bingung baca menu yang banyak saya tanya langsung aja ke mbak-mbak pelayannya,
'mbak, yang favorit di sini apa?'
Dia bilang gurame bakar.
Okelah, saya pesen gurame bakar dengan bumbu kecap. Kelihatannya memang sip nih.
Termasuk terjangkau juga, gurame bakar ukuran sedang dibandrol harga Rp. 65.000. Plus nasi putih Rp. 10.000 dan lalapan Rp. 6000.
Warung makan yang dekat dengan RSU Bhakti Yudha ini mempunyai tempat parkir yang lumayan luas. Jadi kalau bawa mobil insya Allah gak repot parkirnya, kalau bawa tank atau panser baru masalah... :)
Akhirnya dateng juga gurame bakar yang ditunggu-tunggu. Diicip-icip ternyata enak juga, gak ada rasa ikan lelenya! Ya jelas, ini khan ikan gurame... hehe. Apalagi ditambah lalapannya, yang saya suka daun kemanginya. Wah, bisa kebayang khan lezatnya...
| Daftar menu Ikan Bakar Babe Naseri. Foto milik Happy Chandraleka |
| Warung Ikan Bakar Babe Naseri di Jl. Raya Sawangan. Foto milik Happy Chandraleka |
| Suasana warung. Foto milik Happy Chandraleka |
| Suasana warung. Foto milik Happy Chandraleka |
| Ikan gureme bakar bumbu kecap. Foto milik Happy Chandraleka |
| Lalapan yang seger. Foto milik Happy Chandraleka |
| Ikan gurame bakar, nasi, kecap dan sambal... wah enak nih. Foto milik Happy Chandraleka |
| Pengunjung sedang menikmati santapan. Foto milik Happy Chandraleka |
View Larger Map
---
Teks dan foto oleh Happy Chandraleka
di Ruang 7
3 Maret 2013/20 Rabi'ul Akhir 1434 H
Malam hari jam 21.52
Sambil ditemani istri...
Saturday, February 9, 2013
Soto Seger Mbok Giyem Boyolali
Ada seseorang yang bilang bahwa Indonesia dipersatukan oleh soto. Emang bener juga, kita lihat di tiap daerah mempunyai hidangan khas yang berjenis soto. Termasuk di kota yang saya singgahi ini.
Pada awal Februari 2013 waktu saya bertandang ke kota yang dikenal dengan penghasil susu sapi ini, saya sempat mampir di warung soto yang sangat ramai. Tadinya cuma melirik saja dari motor, tetapi jadi penasaran melihat ramainya pengunjung. Wah, kayaknya 'recomended' nih. Begitu kata batin saya.
Jadilah saya bersama istri dan anak memarkir motor di depan warung soto ini. Di depannya sudah langsung disapa oleh para pengamen (bahasa halusnya seniman jalanan) yang tidak maksa kita mau ngasih atau tidak juga gpp. Wah, sulit juga cari posisi duduk karena memang lagi rame-ramenya.
Sajian di sana cuma ada soto daging dan soto ayam. Ya udah kami pesan dua-duanya. Pelayannya pun bersaut-sautan menyebutkan menu yang kami pesan. Agak aneh juga, di sini kok tidak disodorin kertas buat nulis pesanan kita. Tapi gapapa, ternyata memang sotonya itu sip punya dan boleh dicoba. Disajikan dalam mangkuk kecil ditambah toge dan bawang goreng dan daun bawang dengan harga per porsi cuma Rp 6000. Murah meriah.
Warung soto yang berlokasi di Jl. Pandanaran, Boyolali ini menyediakan juga cemilan pendamping kayak tempe, kerupuk, sate telor puyuh, dll. Kayaknya cemilan ini yang bakal bikin merogoh kocek lebih dalam.
Melihat banyaknya pengunjung yang datang ke sini, tidak heran bila selepas siang hari sekitar jam 1 siang, sajian sotonya sudah habis. Wah, kudu dicatet nih, kalau mau dateng jangan ampe kesiangan.
View Larger Map
---
Teks dan foto oleh Happy Chandraleka
09 Feb 2013/28 Rabi'ul Awwal 1434 H
di Ruang 7
Pagi hari yang cerah
Pada awal Februari 2013 waktu saya bertandang ke kota yang dikenal dengan penghasil susu sapi ini, saya sempat mampir di warung soto yang sangat ramai. Tadinya cuma melirik saja dari motor, tetapi jadi penasaran melihat ramainya pengunjung. Wah, kayaknya 'recomended' nih. Begitu kata batin saya.
Jadilah saya bersama istri dan anak memarkir motor di depan warung soto ini. Di depannya sudah langsung disapa oleh para pengamen (bahasa halusnya seniman jalanan) yang tidak maksa kita mau ngasih atau tidak juga gpp. Wah, sulit juga cari posisi duduk karena memang lagi rame-ramenya.
Sajian di sana cuma ada soto daging dan soto ayam. Ya udah kami pesan dua-duanya. Pelayannya pun bersaut-sautan menyebutkan menu yang kami pesan. Agak aneh juga, di sini kok tidak disodorin kertas buat nulis pesanan kita. Tapi gapapa, ternyata memang sotonya itu sip punya dan boleh dicoba. Disajikan dalam mangkuk kecil ditambah toge dan bawang goreng dan daun bawang dengan harga per porsi cuma Rp 6000. Murah meriah.
Warung soto yang berlokasi di Jl. Pandanaran, Boyolali ini menyediakan juga cemilan pendamping kayak tempe, kerupuk, sate telor puyuh, dll. Kayaknya cemilan ini yang bakal bikin merogoh kocek lebih dalam.
Melihat banyaknya pengunjung yang datang ke sini, tidak heran bila selepas siang hari sekitar jam 1 siang, sajian sotonya sudah habis. Wah, kudu dicatet nih, kalau mau dateng jangan ampe kesiangan.
| Warung soto Mbok Giyem di Jl. Pandanaran Boyolali selalu laris. Foto milik Happy Chandraleka |
| Ramenya...., sampai susah cari tempat duduk. Foto milik Happy Chandraleka |
| Cocok buat ngumpul menjamu keluarga dari luar kota. Foto milik Happy Chandraleka |
| Soto daging dan soto ayam Mbok Giyem. Foto milik Happy Chandraleka |
| Soto daging Mbok Giyem. Foto milik Happy Chandraleka |
| Seniman jalanan yang mangkal di depan warung soto. Foto milik Happy Chandraleka |
| Karena rame jadi cepat habis, makanya jangan kesiangan.... Foto milik Happy Chandraleka |
View Larger Map
---
Teks dan foto oleh Happy Chandraleka
09 Feb 2013/28 Rabi'ul Awwal 1434 H
di Ruang 7
Pagi hari yang cerah
Friday, February 8, 2013
Serunya Naik Bemo Manggarai
Jakarta termasuk kota dengan banyak ragam alat transportasi. Sebut saja dari mulai Kereta Rel Listrik, Metromini, Kopaja, DAMRI, PATAS, Mikrolet, Bajaj, sampai Busway. Semuanya ada. Termasuk salah satu angkutan yang tergolong udah 'udzur' dan sudah layak masuk museum. Apa lagi kalau bukan bemo alias becak motor.
Angkutan yang sudah udzur ini masih tetap setia melayani warga Jakarta dengan tarif yang relatif murah. Trayek yang dilaluinya adalah dari Stasiun Manggarai, Terminal Manggarai, kemudian berbalik ke Jalan Tambak dan terus menyusuri Jalan Proklamasi. Berbelok ke IGD RS Ciptomangunkusumo sampai ke pertigaan Jalan Salemba Raya, dan akhirnya belok kanan ke arah prapatan Matraman dan langsung ke Stasiun Manggarai lagi.
Pagi itu saya sedang menuju Percetakan Negara, niatnya sih cuma noltalgia saja ingin naik angkutan beroda tiga yang sudah ada sejak tahun 1962 dalam rangka GANEFO. Keluar Stasiun Manggarai, beberapa bemo sudah ngetem menunggu penumpang. Saya duduk di kursi depan. Sang sopir belum juga menancap gas sampai angkutan ini penuh penumpang.
Kesan yang kuat dari angkutan yang mampu membawa 8 penumpang termasuk supir ini adalah suaranya yang sangat berisik. Tapi justru ini yang bikin serunya naik bemo. Suaranya meledak-ledak dan keras menembus suasana pagi yang beranjak panas. Yang seru lagi kalau duduk di belakang maka kita hampir dipastikan beradu lutut dengan penumpang yang di depan kita, karena saking sempitnya ruang untuk penumpang. Wah, kasian kalau yang badannya gemuk yah.
Sekedar info tambahan, konon 'spare part' alias suku cadang bemo sudah tidak diproduksi lagi oleh pabriknya di luar negeri. Tetapi karena di Indonesia banyak 'hacker' yang mampu membuat suku cadang tiruannya, jadi bemo masih bisa bertahan hingga kini.
Bemo pun menderu-deru dan sampai di Jalan Salemba Raya. Saya turun dan merogoh kocek Rp. 2000 untuk ongkosnya. Murah meriah dan memang seru... :)
---
Teks dan foto oleh Happy Chandraleka
08 Feb 2013 / 27 Rabi'ul Awwal 1434 H
di Ruang 7
Jam 22.55 malam
Angkutan yang sudah udzur ini masih tetap setia melayani warga Jakarta dengan tarif yang relatif murah. Trayek yang dilaluinya adalah dari Stasiun Manggarai, Terminal Manggarai, kemudian berbalik ke Jalan Tambak dan terus menyusuri Jalan Proklamasi. Berbelok ke IGD RS Ciptomangunkusumo sampai ke pertigaan Jalan Salemba Raya, dan akhirnya belok kanan ke arah prapatan Matraman dan langsung ke Stasiun Manggarai lagi.
Pagi itu saya sedang menuju Percetakan Negara, niatnya sih cuma noltalgia saja ingin naik angkutan beroda tiga yang sudah ada sejak tahun 1962 dalam rangka GANEFO. Keluar Stasiun Manggarai, beberapa bemo sudah ngetem menunggu penumpang. Saya duduk di kursi depan. Sang sopir belum juga menancap gas sampai angkutan ini penuh penumpang.
Kesan yang kuat dari angkutan yang mampu membawa 8 penumpang termasuk supir ini adalah suaranya yang sangat berisik. Tapi justru ini yang bikin serunya naik bemo. Suaranya meledak-ledak dan keras menembus suasana pagi yang beranjak panas. Yang seru lagi kalau duduk di belakang maka kita hampir dipastikan beradu lutut dengan penumpang yang di depan kita, karena saking sempitnya ruang untuk penumpang. Wah, kasian kalau yang badannya gemuk yah.
Sekedar info tambahan, konon 'spare part' alias suku cadang bemo sudah tidak diproduksi lagi oleh pabriknya di luar negeri. Tetapi karena di Indonesia banyak 'hacker' yang mampu membuat suku cadang tiruannya, jadi bemo masih bisa bertahan hingga kini.
Bemo pun menderu-deru dan sampai di Jalan Salemba Raya. Saya turun dan merogoh kocek Rp. 2000 untuk ongkosnya. Murah meriah dan memang seru... :)
| Dashboard bemo dan interiornya yang sudah jadul. Foto milik Happy Chandraleka |
| Jendela ke bagian belakang. Foto milik Happy Chandraleka |
| Antrian bemo menunggu penumpang dari Stasiun Manggarai. Foto milik Happy Chandraleka |
| Pengaman pintu, biar begini keamanan penumpang terjamin. Foto milik Happy Chandraleka |
Teks dan foto oleh Happy Chandraleka
08 Feb 2013 / 27 Rabi'ul Awwal 1434 H
di Ruang 7
Jam 22.55 malam
Subscribe to:
Posts (Atom)