Tuesday, November 2, 2010

Yang Menarik di Waikabubak - NTT

Tanggal 24 - 27 Oktober 2010 saya sempat berkunjung ke Waikabubak, NTT. Waikabubak berada di Pulau Sumba (bukan Sumbawa), di sebelah selatan Pulau Komodo. Bisa ditempuh dengan perjalanan darat dari Bandar Udara Tambolaka sekitar 1 jam. Bandar Udara Tambolaka termasuk masih sederhana, hanya ada satu bangunan permanen sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang. Tetapi bandar udara ini masih terus membangun.

Setelah sekitar satu jam perjalanan darat menggunakan mobil, akhirnya sampai juga di Waikabubak. Kotanya masih jauh dari keruwetan seperti Jakarta. Nggak ada lampu merah... :). Saya sempatkan diri buat jalan-jalan di kota ini seperti kebiasaan saya tiap ke kota-kota lain. Biasanya tiap pagi hari. Sekitar jam tujuh pagi toko-toko mulai buka termasuk pedagang pribumi yang menjual kain tenun khas Sumba, pedagang penjual parang khas Sumba, dan penjual tembakau dan pinang. Pedangan pribumi ini menjual barang dagangannya dengan menggelar tikar di emperan toko-toko. Yup, memang begitu cara mereka berjualan.



Sebagian orang penduduk sini menggunakan pakaian tradisional mereka, yaitu menggunakan kain sarung bagi wanitanya dan bagi laki-lakinya menggunakan ikat kepala dan selendang di pinggang. Selendang tersebut berguna untuk membawa parang. Wah..., memang begitu kebiasaan disini, sebagian laki-lakinya membawa parang di jalan-jalan kota ini. Tapi insya Allah masih aman... :) asal jangan macem-macem.

Berdasarkan buku yang saya baca di sebuah kantor di kota ini, sebagian besar penduduknya beragama Katolik meski ada sebagian yang beragama Islam. Sempet juga shalat di masjid raya di kota Waikabubak, yaitu di Masjid Agung Al Azhar Waikabubak di Jl. A. Yani. Alhamdulillah cukup ramai orang shalat di masjid ini. Hmm, ada seorang bapak yang shalat di masjid ini sambil duduk. Wah, barakallah fiikum masih menyempatkan diri shalat berjama'ah di masjid.

Ketika jalan-jalan pagi di kota ini, saya menyempatkan diri mampir ke seorang penjual kain tenun Sumba. Seorang anak muda penduduk Sumba sedang merapikan barang dagangannya. Berawal dari lihat-lihat akhirnya jadi tertarik juga membeli kain tenun Sumba. dia menawarkan kain panjang, selendang, dan sarung. Saya pikir-pikir mending beli kain panjang aja, bisa sekalian buat selimut... hehe. Akhirnya terjadilah tawar-menawar harga. Dan saya bisa beli kain tenun yang insya Allah bagus dengan harga Rp. 120.000,-. Hmm, kemahalan gak ya? Gak tahu juga yang jelas harga awalnya Rp. 200.000,-. Mungkin di bawah 100 ribu bisa dapat juga.



Ada hal lain yang menarik di Waikabubak ini selain kain tenunnya yang indah, yaitu kerbau. Kerbau merupakan binatang ternak yang sangat penting di daerah ini, mungkin untuk daerah Pulau Sumba pada umumnya. Hampir setiap acara adat mesti menggunakan kerbau, ya mungkin untuk dipotong dan dagingnya dibagikan ke orang banyak. Acara adatnya contohnya adalah pernikahan. Ada penduduk setempat yang mengatakan bahwa seorang laki-laki yang akan menikahi gadis di daerah ini harus membawakan sekitar 60 ekor kerbau. Wah..., tinggal dihitung saja kalau harga satu kerbau adalah 7 - 10 juta.

Binatang ternak lain yang biasa dipelihara penduduk setempat adalah kuda. Tetapi nampaknya kuda agak kurang terurus. Maka dari itu jangan heran kalau kita lihat kuda di daerah ini kurus-kurus, karena penduduknya lebih senang merawat kerbau. Saya hampir lupa mencatat bahwa kerbau nampaknya memang menempati posisi tertentu di masyarakat sini, terlihat dari lambang daerah setempat yang menggunakan gambar kepala kerbau bertanduk panjang. Selain itu pada makam-makam penduduk pun sebagiannya memasang gambar kerbau bertanduk panjang.

Perjalanan di kota ini diakhiri dengan jalan-jalan ke Pantai Rua yang ada di sebelah selatan Pulau Sumba. Pantainya masih sepi pengunjung, pasirnya putih, sebagian penduduk mencoba mencari ikan untuk umpan. Di sisi pantai yang lain ada sekelompok orang sedang membuat perahu kayu. Dua orang anak selalu mengikuti saya di pantai itu. Wah, mereka tahu klo saya emang orang asing di daerah itu. Akhirnya saya foto-foto saja dengan harapan mereka bisa senang. Hehe.

Perjalanan ke sana masih belum lengkap sayangnya. Karena saya tidak sempat melihat dari dekat rumah tradisional khas Sumba. Ya karena memang ada hal-hal lain yang perlu dikerjakan jadi tidak sempat. Semoga lain waktu bisa lihat dari dekat rumah beratap tinggi khas Sumba itu.

---

Chandra
Ruang7 - Depok
2 Nov 2010
[update 3 Nov 2010 jam 10.23 malam, lagi gak bisa tidur]

4 comments:

  1. kalo mau ke Waikabubak dari semarang itu caranya gmn ya? terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Cari aja penerbangan ke Bali. Terus dari Bali ke Bandar Udara Tambolaka. Dari Tambolaka naik mobil sekitar 2 jam.

    ReplyDelete
  3. Hmmm....Di sana masih banyak lho yang menarik. Suami saya adalah orang Sumba. Saya pun kagum sekali dengan suasana di sana.

    ReplyDelete



IP